Ikan Mahseer Indonesia, the Fish of God

POSTED BY ANDY NOSH

Ikan mahseer. Awalnya saya tidak begitu tertarik dengan ikan jenis ini. Bahkan sempat merasa aneh ketika Ariel, teman mancing saya, begitu memuja-muja ikan ini. Postingannya disalah satu group fly fishing selalu terkait betapa asyiknya mancing ikan ini. Hingga pada suatu saat saya berkesempatan memancing mahseer di Sabah, Malaysia. Ternyata benar, mamancing mahseer memang mempunyai keasyikan tersendiri. Selain tenaga ikan yang kuat melengkungkan joran pancing, serta teknik mancingnya yang susah-susah gampang, spot mahseer juga mempunyai susana dan pemandangan yang indah. Biasanya di daerah pegunungan dengan air jernih yang mengalir diantara bebatuan lepas. Dan ternyata, ikannya sendiri juga sangat menarik, sisiknya besar, tertata rapi dan berkilau.

memancing-di-sabah fly-fishing-di-sabah
Spot Mahseer di Sabah.

Ternyata potensi di negara kita tidak kalah dengan negara tetangga yang lebih dulu menjual paket wisata memancing ikan mahseer. Sebut saja Thailand dan Malaysia, negara tersebut sudah berhasil mengkonservasi ikan ini dan menjualnya menjadi paket wisata. Naaah,.. berdasarkan pengalaman itu mari kita gali potensi wisata mancing di wilayah kita, dengan paling tidak kita selamatkan dulu ikan-ikan lokal agar tetap lestari dan jauh dari kepunahan. Baiklah, kita mulai dari mengenal lebih dekat tentang ikan mahseer di Indonesia.Sejak saat itu saya mulai tertarik mempelajari teknik mancing ikan mahseer dan mencari referensi terkait ikan ini. Menurutwww.fishbase.org panjang maximal ikan ini mampu mencapai 275 cm dan berat terbesar yang dilaporkan mencapai 54 kg. Pantas saja jika ikan ini diberi julukan King of the River.

Nama “Mahseer” sendiri cukup menarik untuk ditelisik lebih lanjut. Berikut beberapa data mengenai asal usul nama mahseer dari beberapa bahasa:

  • # Hindustan, dari kata; Maha : besar, hebat, tinggi dan Sir : kepala.
  • # Persia, Mahi Sher dari kata; Mahi : ikan dan Sher : singa.
  • # India, Mahasaula yang artinya sisik yang besar.
  • # Sansekerta, Matsya yang artinya ikan.

Mahseer Indonesia

Nama mahseer sendiri merupakan nama umum yang digunakan untuk menyebut ikan yang tergolong dalam genus Tor, Neolissochilus dan Nazirator. Namun sebagian besar orang cenderung lebih membatasi penggunaan nama mahseer hanya untuk ikan dalam genus Tor saja. Perlu diketahui bahwa dalam genus Tor terdapat lebih dari 20 spesies ikan. Tergolong dalam suku Cyprinidae, mahseer masih berkerabat dekat dengan ikan mas, tawes dan nilem. Menurut salah satu artikel dalam suatu jurnal ilmiah karangan Haryono, Indonesia memiliki 4 spesiesnya Tor yaitu; Tor soro, Tor tambra, Tor tombroides, dan Tor douronensis.

Ikan genus Tor merupakan ikan air tawar lokal Indonesia yang keberadaannya terancam punah. Berdasarkan Daftar Merah Jenis Terancam Punah yang diterbitkan oleh IUCN tahun 1990 tercantum 29 jenis ikan dari Indonesia, diantaranya semua Genus Tor (Kottelat dkk., 1993). Terbitan IUCN tahun 2012 tercantum 12 jenis dari ikan Genus Tor yang terancam punah, diantaranya Tor Tambraides dan Tor Tambra dari Indonesia (Rahayu dkk).

Secara sederhana pembeda diantara spesies-spesies tersebut berdasarkan bentuk sisik, ada tidaknya cuping pada bibir bawah dan ukuran cupingnya. Perlu diperhatikan bahwa banyak terjadi kesalahan dalam penamaan mahseer, karena taxonomy mahseer memang membingungkan. Saat ini orang cenderung mudah memberi nama mahseer berdasarkan warna sisiknya. Padahal, faktanya mahseer mempunyai kemampuan berkamuflase dengan lingkungan sekitarnya sehingga warna sisiknya tidak dapat dijadikan patokan. Perbedaan warna sisik dipengaruhi oleh kondisi fisik dan kimia habitat ikan tersebut, seperti pH, salinitas, kesadahan, kandungan oksigen terlarut, cahaya, temperatur air dll. Sekilas dapat dikenali bahwa mahseer Kalimantan lebih berwarna merah dibandingkan mahseer Sumatera dan mahseer Sumatera lebih merah dibandingkan dengan mahseer Jawa. Jadi jangan heran kalo melihat Tor soro terlihat berwarna keemasan, kemudian buru-buru menamainya Golden Mahseer. Khusus untuk Golden Mahseersebenarnya nama ini khusus diberikan untuk spesies Tor putitora (Himalayan mahseer) dan sampai saat ini belum ada literatur yang menyebutkan keberadaan spesies ini di Indonesia.

Tor soro Tor Tambra Tor Tombroides Tor douronensis
Sirip dubur lebih pendek daripada sirip punggung Cuping berukuran sedang pada bibir bawah, tetapi tidak menyentuh ujung bibir Terdapat cuping di pertengahan bibir bawah yang mencapai ujung mulut Cuping berukuran sedang pada bibir bawah tidak mencapai sudut mulut
Bibir bawah tanpa celah tengah

*tidak mempunyai cuping

Bagian jari terakhir sirip punggung yang mengeras lebih pendek daripada kepala tanpa moncong Tor tambroides sisiknya 2 layer (ada sisik halus di pangkal sisik) dan bentuk sisik cenderung membulat / loinjong (Dinosapto, Kaskus) Bagian jari terakhir sirip punggung yang mengeras panjang nya sama dengan kepala tanpa moncong
Tor soro sisiknya trapesium / membentuk sudut. (Dinosapto, Kaskus) Tor douronensis sisiknya seperti Tor tambroides, namun layernya tidak sejelas tambroides. (Dinosapto, Kaskus)
Utomo & Krismono, 2006 dalam USU

Ciri-ciri pembeda spesies mahseer sulit dikenali untuk ukuran ikan dibawah 30cm; terkadang key-pointnya belum muncul. Beberapa ciri pembeda antara spesies ikan mahseer yang berhasil saya kumpulkan dari berbagai sumber diantaranya adalah sebagai berikut:

Budidaya Mahseer

Dari data yang saya temukan saat ini terdapat badan usaha yang secara intensive sedang melakukan pembiakan ikan Mahseer. Berlokasi di daerah Cipendok – Purwokerto – Jawa Tengah . Menurut data di website mereka, terdapat tiga spesies Tor yang berhasil mereka budidayakan.

Pertumbuhan ikan dalam kolam budidaya cukup cepat jika merujuk pada tabel yang saya temukan berikut :

Tahap I

Awal = 5cm (Pendederan I)

Akhir = 15cm (Pendederan II)

Jk. Waktu = 4 bulan

Tahap IV

Awal = 35cm / 1kg (Pembesaran I)

Akhir = 50cm / 2kg (Pembesaran II)

Jk. Waktu = 12 bulan

Tahap II

Awal = 15cm (Pendederan II)

Akhir = 25cm (Pendederan III)

Jk. Waktu = 8 bulan

Tahap V ~ dst.

Jk. Waktu = 14 bulan / kg

Tahap III

Awal = 25cm (Pendederan III)

Akhir = 35cm / 1kg (Pembesaran I)

Jk. Waktu = 6 bulan

 

Dalam buku ” SYNOPSIS OF BIOLOGICAL DATA ON THE TOR MAHSEER, Tor tor (Hamilton, 1822)” umur relatif ikan dapat diketahui melalui jumlah lingkar tumbuh pada sisik ikan. Gambar di bawah ini menunjukkan umur relatif ikan berdasarkan sisiknya. Gambar kiri menunjukkan umur ikan 5 tahun dan gambar sebelah kanan menunjukkan umur 6 tahun.

Distribusi mahseer di Indonesia

Ikan Mahseer sendiri penyebarannya hampir merata di seluruh Indonesia, namun untuk Indonesia bagian timur sampai saat ini belum ada sumber yang mengatakan adanya keberadaan spesies ikan ini. Nama lokal ikan Mahseer berbeda-beda di tiap daerah. Berikut ini beberapa nama lokal ikan mahseer yang berhasil saya himpun :

  1. Ikan Jurung (Sumatera Utara)
  2. Ikan Lempon (Tor soro, Kab. Banjarnegara)
  3. Ikan Tambra (Tor tombroides, Kab. Banjarnegara)
  4. Ikan Mangur (Kab. Sleman)
  5. Ikan Soro (Kab. Ciawi)
  6. Ikan Semah (Palembang)
  7. Ikan Kancera (Tor soro, Kab. Kuningan, Haryono 2008)
  8. Ikan Kancra Bodas (Kab. Kuningan, Jawa Barat)
  9. Ikan Kerling (Aceh)
  10. Ikan Pedih (Gayo, Aceh)
  11. Ikan Raja (Batak)
  12. Ikan Gariang (Padang)
  13. Ikan Sirangh (Lampung Barat)
  14. Ikan Dewa (Jawa Barat)
  15. Ikan Tombro (Jawa)
  16. Ikan Sapan (Kalimantan Tengah)
  17. Ihan Batak (Sumatera Utara)
  18. Ikan Kelah (Kalimantan)

Sumber : http://photonosh.blogspot.co.id/2016/01/ikan-mahseer-fish-of-god.html

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *